Sekolah merupakan hal yang benar-benar percuma. Sistem yang seenak udel sendiri, dan kurikulum yang terlalu menuntut, membuat para anak bangsa ini menanggung sampah yang mulai membusuk. Kau tahu apa maksudku? Busuk! Sudah benar-benar busuk dan tidak tertolong lagi. Negara ini mesti di instal ulang!
Ya... Saya kira, nilai bukanlah
segalanya, IQ bukanlah dewa, dan kecerdasan bukanlah sesuatu yang membawa
bangsa pada kemakmuran. Ya! Benar! Kebutuhan utama dari Negara ini bukanlah
kepintaran! Kita sudah memiliki terlalu banyak orang pintar. Maksud Saya
‘pintar korupsi’, pintar nyuap, pintar ngomong, pintar nyolong, dan kepintaran
yang lain-lainnya.
Dari pada orang pintar, Negara
lebih membutuhkan orang-orang berkarakter. Orang yang memiliki karakter pekerja
keras, atau jujur, atau baik, atau dermawan, dan atau atau lainnya. Kenapa Saya
memakai kata atau? Karena di sini Saya tak akan terlalu memaksa. Saya rasa
lebih mudah menemukan orang dengan salah satu karakter di atas, daripada orang
yang memiliki seluruh karakter di atas.
Meskipun begitu, semua tulisan
di atas tidaklah berhubungan dengan judul. Tapi yang pasti Saya benar-benar
membenci nama Saya. Kenapa? Mungkin daripada membenci nama sendiri, kata membenci sekolah lebih
tepat. Mereka menyusun absen atas dasar urutan alfabetis. Lha? Kenapa toh?
Kayaknya biar lebih mudah. Tinggal masukkin rumus di Microsoft Excel, jadi deh.
Nah! Bukannya akan lebih baik
jika Mereka menyusun absen atas dasar kemampuan? Orang dengan absen pertama,
selalu jadi yang pertama ketika ada tes. Otomatis waktu persiapan yang Ia
miliki lebih sedikit daripada absen terakhir. Lha? Gimana kalo orang dengan
absen pertama itu adalah orang bodoh yang sulit menyerap pelajaran? Bukannya
lebih baik Mereka disimpan di urutan terakhir sebagai kompensasi atas
kebodohannya.
Bodoh itu bukan salah manusia,
tapi salah Tuhan. Eh? Lebih tepatnya, ‘Bodoh itu buka ulah manusia, tapi ulah
Tuhan’. Saya berbicara bodoh, bukan malas.
Banyak orang sok bijak berkata,
‘Tak ada orang bodoh di dunia ini’. Penyataan macam apa itu? Apakah Mereka
memiliki mata? Apakah Mereka benar-benar melihat dunia dalam kenyataan? Apakah
Kalian lihat? Woi! Lihat lah ke sekelilingmu! Orang-orang dengan IQ rendah,
dengan nilai rendah, dengan daya serap rendah, Kalian sebut apa Mereka?! Jangan
bercanda!
Terlalu banyak energi negatif
yang dunia tanggung atas rasa iri dan dengki. Kau tahu? Bagaimana perbedaan
orang biasa atas orang berbakat? Andai Saya andai-andaikan, orang biasa memili
waktu 24 jam sehari, orang berbakat memiliki waktu samai 1000 jam per hari.
Kenapa Saya berani bilang seperti itu? Karena dunia ini memang tak adil. ‘Man
jadda, wa jadda’ jangan bercanda woi! Slogan tanpa fondasi kuat seperti itu,
hanya akan runtuh di tiup waktu.
Para orang-orang berbakat, hanya
dalam sehari dapat mempelajari sesuatu yang orang biasa pelajari membutuhkan
waktu 1000 jam. Siapa yang bersungguh-sungguh, pasti Dia akan berhasil.
Sesungguh-sungguh apapun Kau itu, di hadapan waktu yang sempit, Kau hanya
pecundang.
TAPI JANGAN MENYERAH!!!
Jika Aku, Aku benar-benar tak
rela bila sebuah nilai membuat kabur pandanganku. Apanya dengan
sungguh-sungguh? Apanya dengan bakat? Bila memang tak bisa melewati jalan itu,
Aku akan cari jalan lain. Memangnya Kau saja jalan yang ada satu-satunya di
dunia ini. Jangan membuatku tertawa, heh!
Sesuatu yang tak bisa Kau
lalukan, diciptakan untuk orang lain lakukan. Jadi, tinggalkan saja! Tinggalkan
saja apa-apa yang tak bisa Kau dapatkan. Banting haluan dan carilah sesuatu
yang lain. Sesuatu yang lebih dekat, dan memang diciptakan untukmu.
Lakukanlah apa yang Kau suka!
Ekspresikanlah hidupmu sebebas mungkin. Berdiri dan buka pintu kelasmu! Keluar
dan buatlah masalah! Tak ada yang berhak mengatur dirimu atas hidupmu. Nikmati
semuanya, dan jangan pernah menyesal. Menengok ke belakang hanya akan membuatmu
tersandung. Berbaliklah jika memang Kau ingin melihat ke belakang.
Hidup itu keras dan singkat.
Segalanya diatur atas formalitas yang mengurung realitas. Mother fucker for formality. Apanya yang ikut aturan? Membosankan!
Benar-benar membosankan. Melakukan apa yang Kau tak suka benar-benar
membosankan. Sadarlah! Kau berada di jalan yang salah! Berbalik dan larilah!
Ludahi saja dunia yang memuakkan ini, dan kembalilah pada apa yang Kau
inginkan.
Oke punya ini! Harus di akui pandangan masyarakat membuat kita merasa tertekan, tapi saat kau melawan hati dan logikamu kau lebih merasa tertekan lagi. Aku lupakan hal yang penting bagiku dan malah memikirkan hal yang penting bagi orang lain, bukannya itu bodoh? Bakat dan usaha? kurasa aku lebih suka jadi orang yang beruntung. Hidup!!!
BalasHapus