Rabu, 08 April 2015

'A' Alfabet Sialan


Sekolah merupakan hal yang benar-benar percuma. Sistem yang seenak udel sendiri, dan kurikulum yang terlalu menuntut, membuat para anak bangsa ini menanggung sampah yang mulai membusuk. Kau tahu apa maksudku? Busuk! Sudah benar-benar busuk dan tidak tertolong lagi. Negara ini mesti di instal ulang!


Ya... Saya kira, nilai bukanlah segalanya, IQ bukanlah dewa, dan kecerdasan bukanlah sesuatu yang membawa bangsa pada kemakmuran. Ya! Benar! Kebutuhan utama dari Negara ini bukanlah kepintaran! Kita sudah memiliki terlalu banyak orang pintar. Maksud Saya ‘pintar korupsi’, pintar nyuap, pintar ngomong, pintar nyolong, dan kepintaran yang lain-lainnya.

Dari pada orang pintar, Negara lebih membutuhkan orang-orang berkarakter. Orang yang memiliki karakter pekerja keras, atau jujur, atau baik, atau dermawan, dan atau atau lainnya. Kenapa Saya memakai kata atau? Karena di sini Saya tak akan terlalu memaksa. Saya rasa lebih mudah menemukan orang dengan salah satu karakter di atas, daripada orang yang memiliki seluruh karakter di atas.

Meskipun begitu, semua tulisan di atas tidaklah berhubungan dengan judul. Tapi yang pasti Saya benar-benar membenci nama Saya. Kenapa? Mungkin daripada membenci  nama sendiri, kata membenci sekolah lebih tepat. Mereka menyusun absen atas dasar urutan alfabetis. Lha? Kenapa toh? Kayaknya biar lebih mudah. Tinggal masukkin rumus di Microsoft Excel, jadi deh.

Nah! Bukannya akan lebih baik jika Mereka menyusun absen atas dasar kemampuan? Orang dengan absen pertama, selalu jadi yang pertama ketika ada tes. Otomatis waktu persiapan yang Ia miliki lebih sedikit daripada absen terakhir. Lha? Gimana kalo orang dengan absen pertama itu adalah orang bodoh yang sulit menyerap pelajaran? Bukannya lebih baik Mereka disimpan di urutan terakhir sebagai kompensasi atas kebodohannya.

Bodoh itu bukan salah manusia, tapi salah Tuhan. Eh? Lebih tepatnya, ‘Bodoh itu buka ulah manusia, tapi ulah Tuhan’. Saya berbicara bodoh, bukan malas.

Banyak orang sok bijak berkata, ‘Tak ada orang bodoh di dunia ini’. Penyataan macam apa itu? Apakah Mereka memiliki mata? Apakah Mereka benar-benar melihat dunia dalam kenyataan? Apakah Kalian lihat? Woi! Lihat lah ke sekelilingmu! Orang-orang dengan IQ rendah, dengan nilai rendah, dengan daya serap rendah, Kalian sebut apa Mereka?! Jangan bercanda!

Terlalu banyak energi negatif yang dunia tanggung atas rasa iri dan dengki. Kau tahu? Bagaimana perbedaan orang biasa atas orang berbakat? Andai Saya andai-andaikan, orang biasa memili waktu 24 jam sehari, orang berbakat memiliki waktu samai 1000 jam per hari. Kenapa Saya berani bilang seperti itu? Karena dunia ini memang tak adil. ‘Man jadda, wa jadda’ jangan bercanda woi! Slogan tanpa fondasi kuat seperti itu, hanya akan runtuh di tiup waktu.

Para orang-orang berbakat, hanya dalam sehari dapat mempelajari sesuatu yang orang biasa pelajari membutuhkan waktu 1000 jam. Siapa yang bersungguh-sungguh, pasti Dia akan berhasil. Sesungguh-sungguh apapun Kau itu, di hadapan waktu yang sempit, Kau hanya pecundang.

TAPI JANGAN MENYERAH!!!

Jika Aku, Aku benar-benar tak rela bila sebuah nilai membuat kabur pandanganku. Apanya dengan sungguh-sungguh? Apanya dengan bakat? Bila memang tak bisa melewati jalan itu, Aku akan cari jalan lain. Memangnya Kau saja jalan yang ada satu-satunya di dunia ini. Jangan membuatku tertawa, heh!

Sesuatu yang tak bisa Kau lalukan, diciptakan untuk orang lain lakukan. Jadi, tinggalkan saja! Tinggalkan saja apa-apa yang tak bisa Kau dapatkan. Banting haluan dan carilah sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih dekat, dan memang diciptakan untukmu.

Lakukanlah apa yang Kau suka! Ekspresikanlah hidupmu sebebas mungkin. Berdiri dan buka pintu kelasmu! Keluar dan buatlah masalah! Tak ada yang berhak mengatur dirimu atas hidupmu. Nikmati semuanya, dan jangan pernah menyesal. Menengok ke belakang hanya akan membuatmu tersandung. Berbaliklah jika memang Kau ingin melihat ke belakang.


Hidup itu keras dan singkat. Segalanya diatur atas formalitas yang mengurung realitas. Mother fucker for formality. Apanya yang ikut aturan? Membosankan! Benar-benar membosankan. Melakukan apa yang Kau tak suka benar-benar membosankan. Sadarlah! Kau berada di jalan yang salah! Berbalik dan larilah! Ludahi saja dunia yang memuakkan ini, dan kembalilah pada apa yang Kau inginkan.

1 komentar:

  1. Oke punya ini! Harus di akui pandangan masyarakat membuat kita merasa tertekan, tapi saat kau melawan hati dan logikamu kau lebih merasa tertekan lagi. Aku lupakan hal yang penting bagiku dan malah memikirkan hal yang penting bagi orang lain, bukannya itu bodoh? Bakat dan usaha? kurasa aku lebih suka jadi orang yang beruntung. Hidup!!!

    BalasHapus