“Dasar Sampah! Orang gagal!
Cacat! Gangguan jiwa! Bla bla bla bla....”
Diceritakan, ada seorang remaja
bernama Fulan. Nama yang benar-benar mainstream. Si Fulan adalah anak yang
baik. Ia tak pernah kebut-kebutan, main wanita, nge-geng, sok gaya, anarkis,
ataupun nakal.Ya, Dia bukanlah orang yang buruk. Hanya saja, Dia adalah seorang
yang jarang keluar rumah, atau boleh disebut ‘jarang keluar kamar’.
Ia benar-benar seorang yang penyendiri.
Dimulai sekitar 5 tahun yang lalu, ketika Dia masuk ke sekolah SMP. Saat itu,
tak banyak temannya yang melanjutkan sekolah. Akibatnya si Fulan jadi sibuk
sendiri. Tak hanya itu, si Fulan juga aktif dalam organisasi ekstrakulikuler
sekolahnya. Berangkat pagi, pulang sore, si Fulan tak punya waktu untuk
bermain dan berinteraksi dengan orang sekitar.
Dua
tahun sudah Ia lewati dengan keadaan seperti itu. Sadar-sadar Ia sudah menjadi orang asing di kampungnya.
Kenapa? Jelas... dua tahun tak melakukan interaksi sosial, si Fulan terhapus
dari masyarakat mayoritas.
‘Ketidak normalan’ si Fulan
bukan hanya sampai di situ. Si Fulan memiliki bakat dan hobi yang berbeda
dengan orang-orang di sekitarnya.
Saat itu, si Fulan tinggal di
sebuah kampung yang cukup pedalaman. Akibatnya, mayoritas orang-orangnya memiliki
pekerjaan yang terbilang ‘jenis keras’. Ya, maksud Saya seperti hobi seorang
montir, atau mengangkat cangkul, atau mengayun golok, dan atau atau lainnya.
Si Fulan tak bisa menggunakan
fisiknya. Meski Ia adalah laki-laki, Dia tak cukup kuat untuk mengangkat
cangkul atau mengayun golok. Ya, maaf saja, Dia juga tak menyukai gir dan
rantai.
Hidup di lingkungan seperti itu,
si Fulan merasa tertekan. Ia merasa berbeda dari orang lain. Ia merasa dirinya
tak memilik kemampuan. Sampai akhirnya, Ia tahu, Dia lebih dari siapa pun.
Si Fulan belajar menulis, si
Fulan belajar mengetik, si Fulan belajar algoritma, si Fulan belajar
pemrograman, si Fulan belajar jaringan. Si Fulan menyukai sastra, dan si Fulan
menyukai teknologi.
Kau tahu, itu adalah ilmu yang
cukup bermanfaat bila berada pada tempatnya. Tapi, bagaimana dengan si Fulan? Saya
kira itu hanya sampah. Si Fulan hanya akan di anggap orang pemalas jika Ia terus
bergelut dengan komputernya.
Kenyataannya begitu. Setelah
terlempar dari lingkaran sosial, si Fulan terkurung di dunianya. Ia tak jarang
keluar kamarnya. Tapi... buat apa toh? Keluar juga hanya akan membuat si Fulan
tertekan. Memaksakan apa yang Kau tidak suka itu buruk. Benar kan?
Setelah terasing dari
lingkungannya, kesalahan si Fulan tak berhenti di situ.
Orang tua si Fulan—yang menurutnya,
sama saja dengan orang lain—tak pernah mencoba mengerti si Fulan. Sepertinya Mereka
merasa kecewa dan sedih. Kenapa? Bukannya Mereka memiliki anak berbakat dan
baik?
Kau tak akan pernah tahu.
Pendapat mayoritas itu lebih penting daripada pendapat anaknya sendiri.
Dari sana Kau akan tahu. Betapa
egois dan g*bl*gnya manusia. Mereka memaksakan persepsi Mereka kepada orang
lain yang berbeda dari Mereka. Mereka tak pernah berpikir, bahwa manusia
memiliki banyak jenisnya. Mereka tak pernah menyadari, orang seperti si Fulan
memiliki peran tersendiri di kehidupan Mereka. Mereka tak pernah ingin
memahami, karena Mereka adalah budak mayoritas. Hah! Yang benar saja.
Penyendiri? Hikikomori?
Introvert? Muka masam?
Mereka memiliki alasan Mereka sendiri.
Alasan yang bukan alasan mayoritas. Yang mungkin Kalian tak dapat mengerti jika
Kalian bukan Mereka. Sialan, memangnya apa salah Mereka. Bukannya Mereka tak
pernah mengganggumu?
Setiap orang punya caranya
sendiri? Mereka bukan bermalas-malasan atau pun apapun. Memangnya Kau hidup
untuk apa?
Untuk bahagia bukan?
Kalau begitu, bila Kau memaksakan
apa yang Kau tak suka, apa itu bisa membahagiakanmu? Kampret!
Yah... mungkin ini juga sudah
terlanjur. Tak ada jalan kembali—dan meski ada jalan kembali pun, Mereka tak
akan pernah kembali.
Andai ada seseorang yang
memiliki masalah yang hampir serupa dengan si Fulan. Maka si Fulan hanya bisa
berpesan. ‘Tetaplah di jalanmu, karena pada awalnya Thomas Alva Edison pun di
anggap gila dan ditendang dari sekolah’.
Kayak kenal. Hem, mayoritas memang memiliki pandangan serupa soal arti dan makna hidup. Macam bersekolah, bekerja, menikah dan punya anak. Huff! Mendengarnya saja sudah membosankan bagiku, tapi perbedaan itu adalah hal yang wajar, kebanyakan orang hanya sibuk mengomentari kesalahan dari pada kebaikanmu. Dan berbeda adalah hal yang salah bagi mayoritas. Tapi Tuhan memang menciptakan sebuah perbedaan untuk sebuah keseimbangan, perbedaan itu untuk menjaga ekosistem alam (itu anggapanku) semua manusia itu jelas berbeda selain dari fisik dalam hal pola pikir kita juga berbeda, kenapa harus merasa berbeda itu menakutkan? Mungkin yang menyeramkan adalah saat kau hidup bagai robot dan mengekang keinginanmu sendiri.
BalasHapusTetaplah di jalanmu, yang jelas itu bukan jalan ninja kali ya. Tetaplah berjalan di jalan yang lurus bukan jalan yang sesat.
BalasHapusNgomong-ngomong, saya berasa baca Ningen Shikkaku. Gegara awalannya ada kata 'orang gagal'. Terus membahas tentang hubungan dengan manusia.