Di suatu negara, di dunia antah
berantah. Hiduplah sekelompok masyarakat dengan hukum yang Mereka buat. Hukum
itu memang tak tertulis, tak dideklarasikan, dan tak bermanifesto. Meski
begitu, hukum tak berbentuk itu seperti hukum dari segala hukum. Malah bukannya
hukuman yang menyesuaikan dengan fakta, namun fakta yang menyesuaikan dengan
hukuman. Nah, pertanyaannya, hukum ‘p*rs*t*n apakah itu?
MAYORITAS
Entah kenapa kata yang sama
sekali tak ada sangkut-pautnya dengan dunia hukum ini, menjadi hukum paling
tinggi di negara itu. Apakah itu hanya sebuah nama undang-undang? Apakah di
negara itu memang memiliki penafsiran kata yang berbeda? Mungkin nanti Kalian
akan menemukan jawabannya.
Kalian akan menemukan jawabannya
ketika Kalian berdebat dengan guru. Kalian akan menemukan jawabannya ketika
Kalian berusaha untuk mandiri. Kalian akan menemukan jawabannya ketika Kalian
mengambil jalan yang lebih cepat.
PANJANGNYA, HUKUM ITU BERNAMA
‘PERSEPSI MAYORITAS’
Apa itu? Itu merupakan
sekumpulan pendapat bodoh dari orang-orang bodoh. Ah! Maaf, Saya salah ketik.
Itu merupakan sekumpulan pendapat normal dari orang-orang normal. Ya! Normal.
Normal itu biasa, biasa itu kebanyakan, dan kebanyakan itu MAYORITAS. Atau jika
Anda suka, Anda juga boleh mengartikan kata ‘kebanyakan’ menjadi ‘keserakahan’.
Ketika Mereka berusaha
menghapuskan pola pikir yang berbeda dengan pola pikir Mereka, dan memvonis
(dengan seenak udel) pola pikir itu salah. Apa dasar hukumnya? Sederhana saja!
Karena itu tidak normal.
Hei, hei! Sebenarnya normal itu
apa?
Normal merupakan kata lain dari
pasaran. Maksud Saya, jika Anda tidak bertingkah laku pasaran, maka Anda yang
salah. Benar kan? Bukannya banyak orang yang mengira sekolah merupakan penentu
masa depan, sehingga orang yang bekerja keras tanpa sekolah menjadi ‘salah’.
Benar kan, benar kan? Hayoo, ngaku!
Ketika seorang guru salah, maka
jika ada murid yang memberi tahu kesalahan sang guru, maka si murid yang akan
jadi salah. Kenapa? Karena normalnya guru selalu benar. Kenapa? Karena terlalu
banyak santri yang mengagungkan guru Mereka. Kenapa? Murid tidak normal jika
sang murid malah mengajari gurunya. Kenapa? Karena menjadi tak normal itu
salah. Kenapa? ... buktikan saja sendiri. -_- Itu adalah reaksi yang normal.
Ketika seseorang mencoba untuk
bekerja sendiri, maka Dia akan dianggap tidak normal. Dia akan dianggap
sombong, terlalu percaya diri, dan anti sosial. Padahal, Dia hanya tidak ingin
merepotkan orang lain. Padahal, Dia hanya malu untuk menerima orang lain.
Padahal, pekerjaannya memang hanya perlu dilakukan sendiri. Padahal, Dia hanya
ingin mandiri. Padahal, Dia hanya ingin orang lain menggunakan kekuatannya
sendiri. Padahal, ada yang gagal ketika pola pikir itu terbentuk di otak
manusia.
Anda sudah lulus SMA? Anda ingin
belajar bahasa inggris? Anda ingin jago ngomong sama bule? Maka normal dan
benarnya Anda akan pergi ke tempat les atau masuk universitas bahasa. Tapi ada
yang lebih cepat! Bukan hanya cepat, Anda juga tak perlu membayar, tapi malah
Anda yang dibayar. Apa itu?
KEMASI BARANG-BARANG ANDA DAN
PERGI KE BALI UNTUK JADI TUKANG SEMIR
Saya yakin, kebanyakan orang
akan berpikir, ‘gila!’. Mungkin ya, tapi ini jalan yang paling cepat. Saya tak
bercanda! Kalau Saya jadi Menteri Pendidikan, maka Saya akan membuat sebuah
hukum WAMIR. Negara lain WAMIL, negara ini WAMIR. Apa itu? Wajib nyeMIR. Cukup
3 sampai 6 bulan, dan itu tak ada nilainya jika dibandingkan dengan 10 tahun
sekolah Anda yang tak menghasilkan apa-apa. Fakta.
Meski begitu, tetap saja, pola
pikir ini dianggap benar-benar salah kaprah. Tak akan banyak orang yang akan
menuruti apa kata Saya. Padahal, menurut Saya, Anda harusnya bangga ketika Anda
lulus SMA, dan Anda mengajak teman Anda.
“Bro! Kita belajar bahasa
inggris ke bali yuk!”
Hahaha. Itu benar-benar gila.
Meski begitu, hukum MAYORITAS tak akan pernah terpecahkan dan terkalahkan.
Karena orang-orang yang keluar dari ‘pasaran’ merupakan alien di tengah-tengah
manusia. Lakukan apa yang Anda suka, karena hidup Anda, terserah Anda. Saya tak
akan peduli kecuali jika Anda merugikan Saya.
Aku sependapat. Aku melawan keinginanku dan mengikuti keinginan masyarakat tentang bagaimana seharusnya hidup itu. Tapi, meski begitu aku tetaplah orang yang berbeda, tetap ada perbedaan yang kontras antara aku dengan masyarakat (yang katanya normal) aku tidak terasing tapi aku harus selalu siap mendengar celotehan soal perbedaan itu. Dalam hal busana, gaya rambut, makanan, pekerjaan, aku sama dengan orang kebanyakan. Tapi dalam hal pola pikir aku jelas berbeda. Aku sudah melakukan 4 hal yang sama dalam hal yang biasanya dilakukan masyarakat, tapi hanya karena satu perbedaan orang tetap memandangku berbeda. Apa yang salah? Bukannya pikiran seseorang itu bebas? Bahkan sekalipun kau terus membayangkan adegan porno di otakmu, itu tidak masalah. Karena satu-satunya tempat terbebas di muka bumi ini adalah pikiran. Kalau itu juga harus di atur maka kau bukan manusia tapi robot.
BalasHapus