Jumat, 10 April 2015

Hukum Mayoritas


Di suatu negara, di dunia antah berantah. Hiduplah sekelompok masyarakat dengan hukum yang Mereka buat. Hukum itu memang tak tertulis, tak dideklarasikan, dan tak bermanifesto. Meski begitu, hukum tak berbentuk itu seperti hukum dari segala hukum. Malah bukannya hukuman yang menyesuaikan dengan fakta, namun fakta yang menyesuaikan dengan hukuman. Nah, pertanyaannya, hukum ‘p*rs*t*n apakah itu?


MAYORITAS

Entah kenapa kata yang sama sekali tak ada sangkut-pautnya dengan dunia hukum ini, menjadi hukum paling tinggi di negara itu. Apakah itu hanya sebuah nama undang-undang? Apakah di negara itu memang memiliki penafsiran kata yang berbeda? Mungkin nanti Kalian akan menemukan jawabannya.

Kalian akan menemukan jawabannya ketika Kalian berdebat dengan guru. Kalian akan menemukan jawabannya ketika Kalian berusaha untuk mandiri. Kalian akan menemukan jawabannya ketika Kalian mengambil jalan yang lebih cepat.

PANJANGNYA, HUKUM ITU BERNAMA ‘PERSEPSI MAYORITAS’

Apa itu? Itu merupakan sekumpulan pendapat bodoh dari orang-orang bodoh. Ah! Maaf, Saya salah ketik. Itu merupakan sekumpulan pendapat normal dari orang-orang normal. Ya! Normal. Normal itu biasa, biasa itu kebanyakan, dan kebanyakan itu MAYORITAS. Atau jika Anda suka, Anda juga boleh mengartikan kata ‘kebanyakan’ menjadi ‘keserakahan’.

Ketika Mereka berusaha menghapuskan pola pikir yang berbeda dengan pola pikir Mereka, dan memvonis (dengan seenak udel) pola pikir itu salah. Apa dasar hukumnya? Sederhana saja! Karena itu tidak normal.

Hei, hei! Sebenarnya normal itu apa?

Normal merupakan kata lain dari pasaran. Maksud Saya, jika Anda tidak bertingkah laku pasaran, maka Anda yang salah. Benar kan? Bukannya banyak orang yang mengira sekolah merupakan penentu masa depan, sehingga orang yang bekerja keras tanpa sekolah menjadi ‘salah’. Benar kan, benar kan? Hayoo, ngaku!

Ketika seorang guru salah, maka jika ada murid yang memberi tahu kesalahan sang guru, maka si murid yang akan jadi salah. Kenapa? Karena normalnya guru selalu benar. Kenapa? Karena terlalu banyak santri yang mengagungkan guru Mereka. Kenapa? Murid tidak normal jika sang murid malah mengajari gurunya. Kenapa? Karena menjadi tak normal itu salah. Kenapa? ... buktikan saja sendiri. -_- Itu adalah reaksi yang normal.

Ketika seseorang mencoba untuk bekerja sendiri, maka Dia akan dianggap tidak normal. Dia akan dianggap sombong, terlalu percaya diri, dan anti sosial. Padahal, Dia hanya tidak ingin merepotkan orang lain. Padahal, Dia hanya malu untuk menerima orang lain. Padahal, pekerjaannya memang hanya perlu dilakukan sendiri. Padahal, Dia hanya ingin mandiri. Padahal, Dia hanya ingin orang lain menggunakan kekuatannya sendiri. Padahal, ada yang gagal ketika pola pikir itu terbentuk di otak manusia.

Anda sudah lulus SMA? Anda ingin belajar bahasa inggris? Anda ingin jago ngomong sama bule? Maka normal dan benarnya Anda akan pergi ke tempat les atau masuk universitas bahasa. Tapi ada yang lebih cepat! Bukan hanya cepat, Anda juga tak perlu membayar, tapi malah Anda yang dibayar. Apa itu?

KEMASI BARANG-BARANG ANDA DAN PERGI KE BALI UNTUK JADI TUKANG SEMIR

Saya yakin, kebanyakan orang akan berpikir, ‘gila!’. Mungkin ya, tapi ini jalan yang paling cepat. Saya tak bercanda! Kalau Saya jadi Menteri Pendidikan, maka Saya akan membuat sebuah hukum WAMIR. Negara lain WAMIL, negara ini WAMIR. Apa itu? Wajib nyeMIR. Cukup 3 sampai 6 bulan, dan itu tak ada nilainya jika dibandingkan dengan 10 tahun sekolah Anda yang tak menghasilkan apa-apa. Fakta.

Meski begitu, tetap saja, pola pikir ini dianggap benar-benar salah kaprah. Tak akan banyak orang yang akan menuruti apa kata Saya. Padahal, menurut Saya, Anda harusnya bangga ketika Anda lulus SMA, dan Anda mengajak teman Anda.

“Bro! Kita belajar bahasa inggris ke bali yuk!”


Hahaha. Itu benar-benar gila. Meski begitu, hukum MAYORITAS tak akan pernah terpecahkan dan terkalahkan. Karena orang-orang yang keluar dari ‘pasaran’ merupakan alien di tengah-tengah manusia. Lakukan apa yang Anda suka, karena hidup Anda, terserah Anda. Saya tak akan peduli kecuali jika Anda merugikan Saya.

1 komentar:

  1. Aku sependapat. Aku melawan keinginanku dan mengikuti keinginan masyarakat tentang bagaimana seharusnya hidup itu. Tapi, meski begitu aku tetaplah orang yang berbeda, tetap ada perbedaan yang kontras antara aku dengan masyarakat (yang katanya normal) aku tidak terasing tapi aku harus selalu siap mendengar celotehan soal perbedaan itu. Dalam hal busana, gaya rambut, makanan, pekerjaan, aku sama dengan orang kebanyakan. Tapi dalam hal pola pikir aku jelas berbeda. Aku sudah melakukan 4 hal yang sama dalam hal yang biasanya dilakukan masyarakat, tapi hanya karena satu perbedaan orang tetap memandangku berbeda. Apa yang salah? Bukannya pikiran seseorang itu bebas? Bahkan sekalipun kau terus membayangkan adegan porno di otakmu, itu tidak masalah. Karena satu-satunya tempat terbebas di muka bumi ini adalah pikiran. Kalau itu juga harus di atur maka kau bukan manusia tapi robot.

    BalasHapus