Sabtu, 11 April 2015

Ngamar!!!




“Dasar Sampah! Orang gagal! Cacat! Gangguan jiwa! Bla bla bla bla....”

Diceritakan, ada seorang remaja bernama Fulan. Nama yang benar-benar mainstream. Si Fulan adalah anak yang baik. Ia tak pernah kebut-kebutan, main wanita, nge-geng, sok gaya, anarkis, ataupun nakal.Ya, Dia bukanlah orang yang buruk. Hanya saja, Dia adalah seorang yang jarang keluar rumah, atau boleh disebut ‘jarang keluar kamar’.


Ia benar-benar seorang yang penyendiri. Dimulai sekitar 5 tahun yang lalu, ketika Dia masuk ke sekolah SMP. Saat itu, tak banyak temannya yang melanjutkan sekolah. Akibatnya si Fulan jadi sibuk sendiri. Tak hanya itu, si Fulan juga aktif dalam organisasi ekstrakulikuler sekolahnya. Berangkat pagi, pulang sore, si Fulan tak punya waktu untuk bermain dan berinteraksi dengan orang sekitar.

Dua tahun sudah Ia lewati dengan keadaan seperti itu. Sadar-sadar Ia sudah menjadi orang asing di kampungnya. Kenapa? Jelas... dua tahun tak melakukan interaksi sosial, si Fulan terhapus dari masyarakat mayoritas.

‘Ketidak normalan’ si Fulan bukan hanya sampai di situ. Si Fulan memiliki bakat dan hobi yang berbeda dengan orang-orang di sekitarnya.

Saat itu, si Fulan tinggal di sebuah kampung yang cukup pedalaman. Akibatnya, mayoritas orang-orangnya memiliki pekerjaan yang terbilang ‘jenis keras’. Ya, maksud Saya seperti hobi seorang montir, atau mengangkat cangkul, atau mengayun golok, dan atau atau lainnya.

Si Fulan tak bisa menggunakan fisiknya. Meski Ia adalah laki-laki, Dia tak cukup kuat untuk mengangkat cangkul atau mengayun golok. Ya, maaf saja, Dia juga tak menyukai gir dan rantai.

Hidup di lingkungan seperti itu, si Fulan merasa tertekan. Ia merasa berbeda dari orang lain. Ia merasa dirinya tak memilik kemampuan. Sampai akhirnya, Ia tahu, Dia lebih dari siapa pun.

Si Fulan belajar menulis, si Fulan belajar mengetik, si Fulan belajar algoritma, si Fulan belajar pemrograman, si Fulan belajar jaringan. Si Fulan menyukai sastra, dan si Fulan menyukai teknologi.

Kau tahu, itu adalah ilmu yang cukup bermanfaat bila berada pada tempatnya. Tapi, bagaimana dengan si Fulan? Saya kira itu hanya sampah. Si Fulan hanya akan di anggap orang pemalas jika Ia terus bergelut dengan komputernya.

Kenyataannya begitu. Setelah terlempar dari lingkaran sosial, si Fulan terkurung di dunianya. Ia tak jarang keluar kamarnya. Tapi... buat apa toh? Keluar juga hanya akan membuat si Fulan tertekan. Memaksakan apa yang Kau tidak suka itu buruk. Benar kan?

Setelah terasing dari lingkungannya, kesalahan si Fulan tak berhenti di situ.

Orang tua si Fulan—yang menurutnya, sama saja dengan orang lain—tak pernah mencoba mengerti si Fulan. Sepertinya Mereka merasa kecewa dan sedih. Kenapa? Bukannya Mereka memiliki anak berbakat dan baik?

Kau tak akan pernah tahu. Pendapat mayoritas itu lebih penting daripada pendapat anaknya sendiri.

Dari sana Kau akan tahu. Betapa egois dan g*bl*gnya manusia. Mereka memaksakan persepsi Mereka kepada orang lain yang berbeda dari Mereka. Mereka tak pernah berpikir, bahwa manusia memiliki banyak jenisnya. Mereka tak pernah menyadari, orang seperti si Fulan memiliki peran tersendiri di kehidupan Mereka. Mereka tak pernah ingin memahami, karena Mereka adalah budak mayoritas. Hah! Yang benar saja.

Penyendiri? Hikikomori? Introvert? Muka masam?

Mereka memiliki alasan Mereka sendiri. Alasan yang bukan alasan mayoritas. Yang mungkin Kalian tak dapat mengerti jika Kalian bukan Mereka. Sialan, memangnya apa salah Mereka. Bukannya Mereka tak pernah mengganggumu?

Setiap orang punya caranya sendiri? Mereka bukan bermalas-malasan atau pun apapun. Memangnya Kau hidup untuk apa?

Untuk bahagia bukan?

Kalau begitu, bila Kau memaksakan apa yang Kau tak suka, apa itu bisa membahagiakanmu? Kampret!

Yah... mungkin ini juga sudah terlanjur. Tak ada jalan kembali—dan meski ada jalan kembali pun, Mereka tak akan pernah kembali.

Andai ada seseorang yang memiliki masalah yang hampir serupa dengan si Fulan. Maka si Fulan hanya bisa berpesan. ‘Tetaplah di jalanmu, karena pada awalnya Thomas Alva Edison pun di anggap gila dan ditendang dari sekolah’.

2 komentar:

  1. Kayak kenal. Hem, mayoritas memang memiliki pandangan serupa soal arti dan makna hidup. Macam bersekolah, bekerja, menikah dan punya anak. Huff! Mendengarnya saja sudah membosankan bagiku, tapi perbedaan itu adalah hal yang wajar, kebanyakan orang hanya sibuk mengomentari kesalahan dari pada kebaikanmu. Dan berbeda adalah hal yang salah bagi mayoritas. Tapi Tuhan memang menciptakan sebuah perbedaan untuk sebuah keseimbangan, perbedaan itu untuk menjaga ekosistem alam (itu anggapanku) semua manusia itu jelas berbeda selain dari fisik dalam hal pola pikir kita juga berbeda, kenapa harus merasa berbeda itu menakutkan? Mungkin yang menyeramkan adalah saat kau hidup bagai robot dan mengekang keinginanmu sendiri.

    BalasHapus
  2. Tetaplah di jalanmu, yang jelas itu bukan jalan ninja kali ya. Tetaplah berjalan di jalan yang lurus bukan jalan yang sesat.

    Ngomong-ngomong, saya berasa baca Ningen Shikkaku. Gegara awalannya ada kata 'orang gagal'. Terus membahas tentang hubungan dengan manusia.

    BalasHapus