Senin, 17 Agustus 2015

Normal is Boring


(sumber: http://www.republika.co.id)

Pernah mendengar kalimat “ Normal is Boring ” ? Ya, menjadi normal itu membosankan. Sadarkah kita akan hal itu?? Coba tanyakan pada diri kita sendiri kebenaran dari kalimat itu.


Kebanyakan orang, mungkin tepatnya hampir semua orang seringkali melakukan banyak hal yang dianggap benar hanya karena yang lain melakukuan yang sama terlebih hal itu dilakukan dari generasi ke generasi. Lalu bagaimana apabila suatu saat kita melawan arus,bagaimana apabila dalam diri kita terdapat nilai-nilai yang kita yakini lebih baik akan tetapi hal tersebut tidak sesuai dengan kebiasaan yang sudah lama mendarah daging dalam lingkungan sekitar tempat kita tinggal? Akankah kita tetap bersandiwara dan membiarkan jalan yang diberikan Tuhan untuk mendapatkan kebenaran yang hakiki itu terpendam?



Perlu kita ketahui, setiap manusia diberikan 4 garis kehidupan yang berbeda-beda sejak ia masih berada dalam kandungan. 4 garis kehidupan itu adalah amal perbuatan, rizqi, kematian dan jodoh, dan juga bahagia dan celaka.


Ingat! setiap manusia diberikan takdir yang berbeda-beda. Oleh karena itu maka terciptalah juga keinginan manusia yang berbeda, cita-cita yang berbeda, pandangan yang berbeda, sikap dan perilaku yang berbeda dan juga proses penjajakan hidupnya yang berbeda. Lalu kenapa di zaman sekarang orang yang menjadi berbeda itu malah dipandang sebelah mata?


     Dewasa kini, kebanyakan orang seringkali mencaci, menghina, menghujat, mencemooh dan hal-hal lain yang sebenarnya sudah termasuk dalam tindak kekerasan psikis pada orang-orang yang Mereka anggap berbeda. Padahal tanpa Mereka ketahui, orang-orang yang dianggap berbeda itu, orang-orang yang dijauhi itu hanya ingin mempertahankan nilai-nilai yang ia yakini benar. Orang yang dicemoohkan itu sebenarnya hanya tidak ingin bersandiwara, tidak ingin membohongi diri sendiri karena dalam dirinya terdapat dorongan yang besar untuk melakukan hal yang sangat diyakininya.


     Apa salahnya untuk tidak bersandiwara karena itu sungguh sangat melelahkan? Apa salahnya untuk menjadi orang keras kepala dalam membela keyakinan diri? Toh setiap amal perbuatan pun akan dipertanggungjawabkan oleh orang yang melakukannya dan tidak akan dilimpahkan kepada orang lain. Bagaimana bila suatu saat orang-orang yang selama ini kita anggap bodoh, beda, aneh, menyebalkan karena ia tidak sejalan sepikiran dengan kita itu mendapatkan buah yang manis dari usahanya dalam membela yang ia yakini walaupun itu menentang adat? Lalu sudah jadi apa diri kita saat itu padahal selama ini kita selalu sesuai dengan pandangan mayoritas??


     JADILAH DIRI SENDIRI, itu kuncinya. Biarkan Tuhan memberi petunjuk supaya kita menjalani kehidupan yang diberikan-Nya dengan baik. Menjadi berbeda itu bukan masalah. Karena diri kita sendiri lah yang tahu apa yang terbaik dan apa yang sebaiknya kita lakukan. Cobalah untuk mengenali diri kita sendiri supaya kita menjadi paham hakikat diri. Siapa kita, untuk apa kita kita hidup, coba dengarkan apa yang menjadi panggilan jiwa kita dan bagaimana kita ingin dikenang oleh orang lain.


     Mengenali diri sendiri itu menjadi sangat penting supaya kita mampu dan ikhlas untuk menerima fitrah-fitrah yang diberikan Tuhan. Setelah mengenali diri sendiri, selanjutnya kita akan tahu jalan mana yang harus kita tempuh yang sesuai dengan potensi-potensi yang dimiliki. Apabila kita memang ditakdirkan untuk mengambil jalan yang berbeda dengan yang lain, ya terima saja. Jangan ditutup-tutupi atau berpikiran untuk memaksakan menjadi sama padahal itu sangat tidak sesuai dengan yang kita inginkan dan pada akhirnya malah menyakiti diri sendiri.


     Tegaslah dan yakinlah kalau kita tidak akan membodohi diri sendiri walau menjadi berbeda dengan yang lain. Hanya saja yang perlu diingat, keputusan untuk menjalani hidup yang berbeda itu pun harus disertai dengan tanggung jawab yang besar. Jangan sampai perbedaan yang kita jalani tidak sesuai dengan norma-norma sosial dan agama. Karena bagaimanapun juga kita tetap hidup dilingkungan sosial yang sama-sama memiliki hak dan kewajiban yang sama. Selama proses hidup yang kita jalani tidak menyebabkan suatu keburukan atau hal-hal lain yang dapat merusak, mengurangi atau bahkan merampas hak orang lain, ya jalani saja.


     Oleh sebab itu, suatu perbedaan bukan untuk dicemooh, dicaci, dijauhi bahkan di-deskriminasi. Cobalah untuk melihatnya dari sisi yang lain. Ajak diri kita untuk menghargai perbedaan itu, kalau ternyata yang berbeda itu lebih baik, maka dukunglah bukan malah dipandang sebelah mata. Tapi apabila memang perbedaan itu meresahkan, maka ingatkan tetapi bukan dihujat dan diasingkan. Karena semuanya tak ada yang sempurna.



` Kalian mentertawakanku karena Aku berbeda. Tapi Aku mentertawakan kalian karena Kalian sama. ’ ( Albert Einstein )


(Sumber: pokoknya bukan saya yang nulis)

6 komentar:

  1. tetapi jika tidak melanggar norma2/kaidah2 itu masih di lingkup normal,karena kitab yang AGUNG Berkata (KBBI)
    nor-mal;
    salah satunya: tidak melanggar norma dan kaidah (Cek)!
    jadi ini belum "tidak normal"!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maaf, bukan saya yang nulis, tapi saya punya pikiran hampir sama lah dengan Penulis.

      Jadi begini Teh/Kang... apa yang dikatakan kitab yang agung bukanlah realita sosial yang berlaku di masyarakat. Maksudnya, yang menentukan arti suatu norma atau kata 'normal' bukanlah kitab atau sebuah buku, tetapi pandangan mayoritas. Jika menurut mayoritas normal itu adalah 'bergerak searah dengan kebiasan' maka itulah yang jadi arti normal dan bukannya apa yang telah tertulis di KBBI.

      Hapus
  2. Maaf sebelumnya saya ikut nimbrung. Menurut saya, maksud si penulis terhadap kata normal diatas bukanl;ah berdasarkan pad aarti yang baku. Akan tetapi, si penulis cenderung melihat pada fenomena perilaku di masyarakat. Dimana, sya pun merasakan bahwa kebanyakan orang memang selalu memandang sebelah mata terhadap orang yang melakukan sesuatu dengan cara yang berbeda dari yang biasa masyarakatnya lakukan. Otomatis dalam pandangan masyarakat hal tersebut bukanlah sesuatu yang normal karena telah tidak sama dengan yang biasa dilakukan.

    Itu hanya sebatas pandangan saya mengenai isi artikel ini. Setiap orang berhak untuk berpendapat kan??

    BalasHapus
  3. seblmnya terimakasih atas penjelasan nya kang/teh!
    tpi itulah mkna normal
    menurut seorg perfeksionis!.

    pendapat saya tentang fenomena penyisihan/deskriminasi masyarakat terhadap orang yg anti mainstream,
    (hikkikomori,BAka), tdk normal dll. itu sudah menjadi "natural of law" khususnya di negara burung ini.
    sehingga Sulit/tdk bsa untuk di rubah!*
    Trm!

    BalasHapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  5. Akhirnya kutemukan akunmu dark motivator muhehe

    BalasHapus