| (sumber: http://www.republika.co.id) |
Pernah mendengar kalimat “ Normal is
Boring ” ? Ya, menjadi normal itu membosankan. Sadarkah kita akan hal itu??
Coba tanyakan pada diri kita sendiri kebenaran dari kalimat itu.
Kebanyakan orang, mungkin tepatnya
hampir semua orang seringkali melakukan banyak hal yang dianggap benar hanya
karena yang lain melakukuan yang sama terlebih hal itu dilakukan dari generasi
ke generasi. Lalu bagaimana apabila suatu saat kita melawan arus,bagaimana
apabila dalam diri kita terdapat nilai-nilai yang kita yakini lebih baik akan
tetapi hal tersebut tidak sesuai dengan kebiasaan yang sudah lama mendarah
daging dalam lingkungan sekitar tempat kita tinggal? Akankah kita tetap
bersandiwara dan membiarkan jalan yang diberikan Tuhan untuk mendapatkan kebenaran
yang hakiki itu terpendam?
Perlu kita ketahui, setiap manusia
diberikan 4 garis kehidupan yang berbeda-beda sejak ia masih berada dalam
kandungan. 4 garis kehidupan itu adalah amal perbuatan, rizqi, kematian dan
jodoh, dan juga bahagia dan celaka.
Ingat! setiap manusia diberikan
takdir yang berbeda-beda. Oleh karena itu maka terciptalah juga keinginan
manusia yang berbeda, cita-cita yang berbeda, pandangan yang berbeda, sikap dan
perilaku yang berbeda dan juga proses penjajakan hidupnya yang berbeda. Lalu
kenapa di zaman sekarang orang yang menjadi berbeda itu malah dipandang sebelah
mata?
Dewasa
kini, kebanyakan orang seringkali mencaci, menghina, menghujat, mencemooh dan
hal-hal lain yang sebenarnya sudah termasuk dalam tindak kekerasan psikis pada
orang-orang yang Mereka anggap berbeda. Padahal tanpa Mereka ketahui,
orang-orang yang dianggap berbeda itu, orang-orang yang dijauhi itu hanya ingin
mempertahankan nilai-nilai yang ia yakini benar. Orang yang dicemoohkan itu
sebenarnya hanya tidak ingin bersandiwara, tidak ingin membohongi diri sendiri
karena dalam dirinya terdapat dorongan yang besar untuk melakukan hal yang
sangat diyakininya.
Apa
salahnya untuk tidak bersandiwara karena itu sungguh sangat melelahkan? Apa
salahnya untuk menjadi orang keras kepala dalam membela keyakinan diri? Toh
setiap amal perbuatan pun akan dipertanggungjawabkan oleh orang yang
melakukannya dan tidak akan dilimpahkan kepada orang lain. Bagaimana bila suatu
saat orang-orang yang selama ini kita anggap bodoh, beda, aneh, menyebalkan
karena ia tidak sejalan sepikiran dengan kita itu mendapatkan buah yang manis
dari usahanya dalam membela yang ia yakini walaupun itu menentang adat? Lalu
sudah jadi apa diri kita saat itu padahal selama ini kita selalu sesuai dengan
pandangan mayoritas??
JADILAH
DIRI SENDIRI, itu kuncinya. Biarkan Tuhan memberi petunjuk supaya kita
menjalani kehidupan yang diberikan-Nya dengan baik. Menjadi berbeda itu bukan
masalah. Karena diri kita sendiri lah yang tahu apa yang terbaik dan apa yang
sebaiknya kita lakukan. Cobalah untuk mengenali diri kita sendiri supaya kita
menjadi paham hakikat diri. Siapa kita, untuk apa kita kita hidup, coba
dengarkan apa yang menjadi panggilan jiwa kita dan bagaimana kita ingin
dikenang oleh orang lain.
Mengenali
diri sendiri itu menjadi sangat penting supaya kita mampu dan ikhlas untuk
menerima fitrah-fitrah yang diberikan Tuhan. Setelah mengenali diri sendiri,
selanjutnya kita akan tahu jalan mana yang harus kita tempuh yang sesuai dengan
potensi-potensi yang dimiliki. Apabila kita memang ditakdirkan untuk mengambil
jalan yang berbeda dengan yang lain, ya terima saja. Jangan ditutup-tutupi atau
berpikiran untuk memaksakan menjadi sama padahal itu sangat tidak sesuai dengan
yang kita inginkan dan pada akhirnya malah menyakiti diri sendiri.
Tegaslah
dan yakinlah kalau kita tidak akan membodohi diri sendiri walau menjadi berbeda
dengan yang lain. Hanya saja yang perlu diingat, keputusan untuk menjalani
hidup yang berbeda itu pun harus disertai dengan tanggung jawab yang besar.
Jangan sampai perbedaan yang kita jalani tidak sesuai dengan norma-norma sosial
dan agama. Karena bagaimanapun juga kita tetap hidup dilingkungan sosial yang
sama-sama memiliki hak dan kewajiban yang sama. Selama proses hidup yang kita
jalani tidak menyebabkan suatu keburukan atau hal-hal lain yang dapat merusak,
mengurangi atau bahkan merampas hak orang lain, ya jalani saja.
Oleh
sebab itu, suatu perbedaan bukan untuk dicemooh, dicaci, dijauhi bahkan
di-deskriminasi. Cobalah untuk melihatnya dari sisi yang lain. Ajak diri kita
untuk menghargai perbedaan itu, kalau ternyata yang berbeda itu lebih baik,
maka dukunglah bukan malah dipandang sebelah mata. Tapi apabila memang perbedaan
itu meresahkan, maka ingatkan tetapi bukan dihujat dan diasingkan. Karena
semuanya tak ada yang sempurna.
` Kalian mentertawakanku karena Aku
berbeda. Tapi Aku mentertawakan kalian karena Kalian sama. ’ ( Albert Einstein
)
(Sumber: pokoknya bukan saya yang nulis)
tetapi jika tidak melanggar norma2/kaidah2 itu masih di lingkup normal,karena kitab yang AGUNG Berkata (KBBI)
BalasHapusnor-mal;
salah satunya: tidak melanggar norma dan kaidah (Cek)!
jadi ini belum "tidak normal"!
Maaf, bukan saya yang nulis, tapi saya punya pikiran hampir sama lah dengan Penulis.
HapusJadi begini Teh/Kang... apa yang dikatakan kitab yang agung bukanlah realita sosial yang berlaku di masyarakat. Maksudnya, yang menentukan arti suatu norma atau kata 'normal' bukanlah kitab atau sebuah buku, tetapi pandangan mayoritas. Jika menurut mayoritas normal itu adalah 'bergerak searah dengan kebiasan' maka itulah yang jadi arti normal dan bukannya apa yang telah tertulis di KBBI.
Maaf sebelumnya saya ikut nimbrung. Menurut saya, maksud si penulis terhadap kata normal diatas bukanl;ah berdasarkan pad aarti yang baku. Akan tetapi, si penulis cenderung melihat pada fenomena perilaku di masyarakat. Dimana, sya pun merasakan bahwa kebanyakan orang memang selalu memandang sebelah mata terhadap orang yang melakukan sesuatu dengan cara yang berbeda dari yang biasa masyarakatnya lakukan. Otomatis dalam pandangan masyarakat hal tersebut bukanlah sesuatu yang normal karena telah tidak sama dengan yang biasa dilakukan.
BalasHapusItu hanya sebatas pandangan saya mengenai isi artikel ini. Setiap orang berhak untuk berpendapat kan??
seblmnya terimakasih atas penjelasan nya kang/teh!
BalasHapustpi itulah mkna normal
menurut seorg perfeksionis!.
pendapat saya tentang fenomena penyisihan/deskriminasi masyarakat terhadap orang yg anti mainstream,
(hikkikomori,BAka), tdk normal dll. itu sudah menjadi "natural of law" khususnya di negara burung ini.
sehingga Sulit/tdk bsa untuk di rubah!*
Trm!
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusAkhirnya kutemukan akunmu dark motivator muhehe
BalasHapus